Laman

Tampilkan postingan dengan label Respon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Respon. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Komentar Tentang Obrolan Chairil Anwar: Hidup dari Hidupku

Berikut ini adalah sebuah tulisan Ratna Dwipa yang menulis tentang Obrolan dengan tema "Chairil Anwar: Hidup dari Hidupku" yang diselenggarakan pada 27 April 2011, kerjasama komunitas Sanggar Bambu dengan beberapa komunitas di Yogyakarta termasuk di dalamnya MK Art Syndicate.

Ziarah Kubur Penyair yang Tak Pernah Mati 

 Ratna Dwipa


Di Bentara Budaya Yogyakarta, 27 April 2011, para seniman menziarahi kembali kenangan dan karya-karya Chairil Anwar si penyair besar. Obrolan digelar dengan tema “Chairil Anwar: Hidup dari Hidupku.” Hadir pula dalam acara ini anak perempuan Chairil bernama Evawani. Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, datang juga sebagai pembicara dan yang terakhir adalah Tia Setiadi, seorang esais dan penyair.

Acara dibuka dengan pertunjukan musik dari Untung Basuki bersama Sanggar Bambunya. Mereka membawakan musikalisasi puisi dari sajak “Di Tepian Brantas” karya Kirdjomulyo. Seiring lantunan musikalisasi puisi ini, foto-foto tafsir puisi Chairil jatuh beberapa. Tampaknya, Chairil sengaja datang menyaksikan bagaimana zaman ini mencoba untuk meminjam kembali semangatnya, di tengah puisi-puisi yang semakin tak puitis bertebaran dimana-mana.

Sepanjang denting gitar, pandanganku tak lepas dari Mbak Eva, tak menyangka kalau kesan saya tentang anak seorang penyair bisa dikacaukan dengan penampilannya. Zaman bergerak, berderak dengan suara yang semakin serak. Anak penyair itu ternyata sama sekali tak mewarisi bakat bapaknya. Padahal, keren juga kalau ada penyair perempuan seperti Chairil. Ah, kebanyakan penyair perempuan masih sentimentil dan melankolis sepertinya. Atau tak sadar saya hanya bicara tentang diri saya sendiri? Sepertinya yang terakhirlah yang benar.